Lulusan STIH Litigasi Banyak diminati Lembaga Peradilan

JAKARTA – Sarjana hukum lulusan Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Litigasi Jakarta banyak dibutuhkan keahliannya di lembaga peradilan. Mereka memiliki keahlian khusus litigasi sebagaimana dipersyaratkan dalam perekrutan panitera di lingkungan pengadilan. Selain panitera, lulusan STIH juga banyak yang berkarier sebagai hakim di pengadilan yang tersebar di daerah.

“lulusan STIH Litigasi sudah tidak asing lagi dengan dunia peradilan karena mereka sebelumnya sudah magang di pengadilan dan lulusan D-3 Administrasi Peradilan sudah banyak yang berkarya di lingkungan pengadilan,” kata Rektor STIH Litigasi Jakarta Dr. H. Achmad Ubbe saat ditemui di kantornya, Jalan Percetakan Negara VII No. 27, Rawasari ,Jakarta Pusat, Rabu (20/2/2019).

Menurut Achmad Ubbe, Ketua MA Hatta Ali dalam beberapa kesempatan mengatakan, berdasarkan laporan dari sejumlah ketua pengadilan dan hakim-hakim di daerah, lulusan STHI Litigasi lebih cepat menyesuaikan diri dengan pekerjaan. 

Artinya, sarjana lulusan dari kampus ini memiliki modal besar untuk langsung terjun dan mengimplementasikan ilmunya di dunia kerja, jika dibandingkan dengan lulusan sekolah perguruan tinggui umum lain.

Tak heran jika kampus yang didirikan oleh Yayasan Pengayoman Kementerian Hukum dan HAM RI sejak tahun 1987 ini telah melahirkan alumni terdidik dan terlatih yang bekerja di berbagai lingkungan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, serta badan-badan kehakiman di bawahnya.

“Gedung ini banyak melahirkan orang bermanfaat bagi bangsa ini. Banyak petinggi-petinggi lembaga peradilan yang berasal dari lulusan STIH. Misalnya, Wakil Ketua LPSK, Ketua di pengadilan negeri, PTUN, hakim di sejumlah pengadilan negeri di daerah, di MA, MK, dan lembaga negara lain,” terangnya. 

Staf pengajar STIH Litigasi terdiri dari ilmuan/ahli dan praktisi senior yang berpengalaman di bidangnya, berasal dari perguruan tinggi negeri dan swasta, pejabat dan mantan pejabat dari badan kehakiman, Polri, Notaris, Advokat, hakim agung dan petinggi Mahkamah Agung. “Dosen rata-rata dari mantan hakim agung, hakim pengadilan negeri, Panitera Muda, dan praktisi hukum,” terangnya.

Sumber : sindonews